Atasi Kenaikan Biaya Kargo, Kemenhub Percepat Bongkar Muat

Sat, 02 January 2021

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 membawa dampak pada kinerja seluruh sektor perekonomian, tidak terkecuali industri pelayaran. Biaya pengangkutan (freight) petikemas atau biaya kargo secara global telah naik tajam.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Agus H. Purnomo mengatakan bahwa kenaikan biaya tersebut berpengaruh pada upaya perbaikan kinerja industri pelayaran dan perekonomian nasional.

“Dampaknya, hampir di semua negara harga sea freight dengan kontainer naik signifikan, waktu pelayaran lebih lama, terjadi penumpukan kontainer di pelabuhan, dan bongkar muat di pelabuhan pun lebih lama,” katanya di Jakarta yang dikutip dari keterangan pers, Sabtu (2/1/2021).

Agus menjelaskan bahwa Kemenhub telah menyiapkan sejumlah langkah untuk membantu kesulitan yang dialami industri pelayaran. Pertama, mengawasi percepatan proses bongkar muat sehingga petikemas dapat segera didistribusikan dan kapal bisa berlayar kembali.

Kedua, mempercepat petikemas segera keluar dari pelabuhan sehingga kontainer segera dapat kembali ke depo dengan cepat.

“Kami imbau kementerian terkait bisa mendukung upaya yang dilakukan Kementerian Perhubungan, yaitu mempercepat proses pengeluaran long stay container di pelabuhan,” jelasnya.

Sementara operator pelayaran jalur utama (main line operator/MLO) diminta tetap dapat memberi ruang muat dari Indonesia untuk tujuan ekspor. MLO diharapkan dapat menyediakan petikemas 40 High Cube.

“Berikutnya kami minta perusahaan pelayaran dalam negeri, khususnya yang tergabung dalam INSA mengambil peluang untuk memanfaatkan ruang muat pelayaran luar negeri yang berkurang. Kami juga menghimbau perusahaan eksportir melakukan subtitusi dengan memakai peti kemas 20 feet,” ucap Agus.

Penulis : Jaffry Prabu Prakoso | Editor : Hadijah Alaydrus


Sektor Logistik Naik Daun, Investasi Properti Bakal Melonjak 20 Persen

Tue, 29 December 2020

JAKARTA, KOMPAS.com - Volume investasi properti di kawasan Asia-Pasifik akan meningkat sebesar 15 hingga 20 persen pada tahun 2021. Fenomena ini terjadi lantaran adanya peningkatan minat investor terhadap aset logistik dan aset-aset alternatif seperti pusat data dan hunian vertikal atau tempat tinggal yang disewakan. Selain minat investor terhadap aset, investasi properti di kawasan Asia-Pasifik juga meningkat karena terdapat permintaan akan ruang ramah lingkungan serta nyaman. CEO Asia-Pasific Jones Lang LaSalle (JLL) Anthony Couse mengungkapan hal itu dalam keterangan persnya kepada Kompas.com, Selasa (29/12/2020). "Ini akan menjadi prioritas strategis lebih penting di dunia Pasca- pandemi Covid-19 dan menjadi landasan bagi pemulihan pasar yang sedang berlangsung," jelas Anthony.
 

Anthony melanjutkan, investasi properti pada sektor hotel, ritel, dan perkantoran juga akan meningkat pesat pada tahun depan. Ini disebabkan seiring dimulainya kembali rencana bisnis dan penerapan strategi penggunaan aset terukur oleh para investor di tengah momentum pemulihan ekonomi. Dia optimistis, meski Pandemi Covid-19 memaksa karyawan bekerja dari rumah, ruang perkantoran akan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi operasional perusahaan. "Artinya, aset ini akan tetap bernilai di mata para investor," lanjut Anthony. Sebagai respon terhadap perubahan akibat Pandemi Covid-19, ruang perkantoran akan dirancang ulang untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan karyawan, memungkinkan untuk penerapan jaga jarak sosial, serta mengakomosi banyak ruang kolaborasi.
 

Indonesia 

Sementara itu, sektor logistik di Indonesia diprediksi akan terus berjaya pada tahun 2021. Baca juga: 13 Kawasan Industri Baru Dibangun, Jawa Area Utama Konsumen "Dengan pusat data akan terlihat lebih dominan dibanding kelas aset baru lainnya yang menarik," ujar Head of Research JLL Indonesia James Taylor. James juga melihat prospek lebih baik bagi sektor perkantoran, ritel dan perumahan, seraya pulihnya kepercayaan pasar menyusul rencana vaksinasi Covid-19 di Indonesia. Sama halnya dengan JLL, Savills Indonesia pun optimistis sektor logistik akan terus maju seiring perkembangan pesat e-commerce. Meski begitu, logistik akan mengalami pergeseran permintaan dengan adanya relokasi perusahaan China dan negara lainnya yang dipicu oleh konstruksi di beragam macam kawasan industri di seluruh Indonesia. Hal ini terjadi lantaran diterbitkannya Undang-undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. "Kami harapkan lebih banyak investor di seluruh dunia agar tertarik masuk ke pasar Indonesia dengan hukum investasi lebih menarik," tutur Director Research Consultancy Savills Indonesia Anton Sitorus.

Penulis : Suhaiela Bahfein | Editor : Hilda B Alexander



Berita Lainnya


Atasi Kenaikan Biaya Kargo, Kemenhub Percepat Bongkar Muat..

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 membawa dampak pada kinerja seluruh sekto..

Sektor Logistik Naik Daun, Investasi Properti Bakal Melonjak..

JAKARTA, KOMPAS.com - Volume investasi properti di kawasan Asia-Pasifik akan men..

Pemulihan Ekonomi, Mendag Lutfi Fokus Perlancar Arus Barang..

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memastikan akan menjami..

Tantangan yang Dialami oleh Pelaku Logistik di Indonesia ..

Direktur Komersial PT Pos Indonesia Charles Sitorus mengatakan ada beberapa tantangan yang dirasa..